The Tragedy of the Commons

kenapa sifat mementingkan diri sendiri secara logis menghancurkan dunia

The Tragedy of the Commons
I

Pernahkah kita memperhatikan kulkas bersama di pantry kantor atau di dapur kos-kosan? Awalnya, kulkas itu bersih berkilau. Harum. Bebas dari tumpahan kecap atau sayur sisa minggu lalu.

Namun, pelan-pelan, sebuah keajaiban kelam terjadi. Ada satu botol minuman yang dibiarkan tumpah sedikit. Lalu muncul kotak makan berisi misteri biologi yang sudah berjamur. Akhirnya, kulkas itu berubah menjadi zona bencana yang tidak ada satu pun orang mau membersihkannya.

Kita mungkin sering menggerutu, "Kenapa sih orang-orang jorok banget?" Tapi mari kita bedah ini bersama-sama. Fenomena kulkas kantor ini sebenarnya bukan semata-mata soal kemalasan. Ini adalah jendela kecil untuk melihat salah satu konsep paling mengerikan—sekaligus paling mempesona—dalam sejarah peradaban manusia. Sebuah konsep yang bisa menjelaskan kenapa jalanan macet, kenapa ikan di laut habis, dan kenapa dunia kita pelan-pelan menuju kehancuran.

II

Untuk memahami pola aneh ini, kita perlu mundur sejenak ke Inggris pada abad ke-19. Seorang ekonom bernama William Forster Lloyd mengamati sebuah desa yang memiliki satu padang rumput umum. Semua peternak di desa itu boleh membawa sapi mereka ke sana untuk makan rumput secara gratis.

Awalnya, keseimbangan terjaga. Sepuluh peternak masing-masing membawa satu sapi. Namun, suatu hari, seorang peternak mulai berpikir kritis. "Kalau saya membawa satu sapi tambahan, keuntungan saya akan meningkat seratus persen. Tapi, kerusakan rumputnya akan ditanggung secara rata oleh kesepuluh peternak. Kerugian buat saya sangat kecil!"

Secara matematika dan logika, keputusan peternak ini sangat brilian. Ini adalah langkah survival jangka pendek yang masuk akal. Masalahnya, sembilan peternak lain memiliki otak yang sama pintarnya. Mereka melakukan kalkulasi logis yang sama. Semuanya membawa sapi tambahan. Dan sapi tambahan lagi.

Akibatnya? Rumputnya habis total. Padang rumput mati. Sapi-sapi kelaparan, dan semua peternak bangkrut bersama-sama.

Lebih dari seratus tahun kemudian, pada tahun 1968, ahli ekologi Garrett Hardin mempopulerkan fenomena ini dengan nama The Tragedy of the Commons (Tragedi Kepemilikan Bersama). Di sinilah letak ironi psikologisnya, teman-teman. Kehancuran ini terjadi bukan karena orang-orang itu jahat. Kehancuran ini terjadi justru karena setiap individu bertindak sangat rasional untuk mementingkan dirinya sendiri.

III

Sekarang, mari kita ambil napas sebentar dan perbesar skalanya.

Kalau kehancurannya cuma sebatas kulkas bau atau rumput yang botak, kita mungkin masih bisa tertawa. Tapi bagaimana jika "padang rumput" itu adalah hal-hal yang menopang kehidupan kita?

Coba kita lihat lautan lepas. Kenapa banyak perusahaan kapal menangkap ikan gila-gilaan sampai spesies tertentu terancam punah? Karena logikanya: "Kalau bukan kita yang ambil ikannya sekarang, perusahaan negara lain yang akan ambil."

Lihat juga udara yang kita hirup. Membuang limbah asap ke udara jauh lebih murah bagi sebuah pabrik daripada membangun sistem filter yang mahal. Pabrik dapat untung besar, tapi dampak polusinya (seperti pemanasan global dan penyakit paru-paru) dibagi rata ke seluruh umat manusia. Bahkan, krisis resistensi antibiotik saat ini juga adalah bentuk dari tragedi ini. Kita minum antibiotik sembarangan agar cepat sembuh secara instan, tanpa sadar kita sedang menciptakan bakteri super yang kelak akan membunuh jutaan orang.

Mengerikan, bukan? Rasanya seolah-olah otak manusia didesain dengan sebuah bug bawaan. Sebuah eror sistem di mana kecerdasan kita untuk menguntungkan diri sendiri justru menjadi bom waktu untuk kepunahan kita. Apakah kita memang selamanya terjebak dalam siklus keegoisan logis ini? Apakah dunia ini pasti akan kiamat karena kita terlalu pintar menghitung keuntungan?

IV

Tahan dulu pesimisme itu. Di sinilah sains, sejarah, dan sosiologi memberi kita sebuah kejutan manis.

Selama puluhan tahun, banyak akademisi mengira bahwa manusia memang dikutuk oleh The Tragedy of the Commons. Para ahli zaman dulu berkesimpulan bahwa solusi untuk menyelamatkan dunia cuma ada dua: serahkan semuanya kepada pemerintah yang diktator untuk mengatur dengan keras, atau swastanisasi semuanya agar orang peduli karena merasa memiliki.

Lalu, datanglah seorang ilmuwan politik luar biasa bernama Elinor Ostrom.

Alih-alih cuma duduk di belakang meja menghitung rumus ekonomi, Ostrom berkeliling dunia. Beliau mengunjungi komunitas petani di Swiss, desa nelayan di Filipina, hingga masyarakat adat pengelola hutan di Jepang.

Apa yang beliau temukan membalikkan semua teori pesimis sebelumnya. Ostrom menemukan banyak komunitas yang berhasil mengelola "padang rumput" mereka selama ratusan tahun tanpa hancur, tanpa pemerintah yang otoriter, dan tanpa privatisasi.

Atas temuan ini, Elinor Ostrom memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2009. Beliau membuktikan satu rahasia besar tentang psikologi manusia: kita memang punya insting egois yang rasional, tapi kita juga merupakan spesies yang punya kapasitas luar biasa untuk berkomunikasi, membangun rasa percaya, dan membuat sanksi sosial bersama. Manusia tidak hanya digerakkan oleh uang dan keuntungan, tapi juga oleh empati dan rasa malu jika merugikan tetangganya.

V

Jadi, teman-teman, mari kita bawa konsep luar biasa ini kembali ke bumi. Kembali ke keseharian kita. Kembali ke jalan raya yang macet, atau ke kulkas pantry kantor yang mulai berantakan.

The Tragedy of the Commons mengajarkan kita pelajaran yang keras tapi penting. Memilih untuk mementingkan diri sendiri—seperti memotong antrean, membuang sampah sembarangan karena "cuma satu bungkus", atau memboroskan air tanah—memang terlihat sangat logis dan menguntungkan. Secara individu, kita merasa menang.

Tapi Elinor Ostrom mengingatkan kita bahwa kita punya pilihan tingkat lanjut. Kita dibekali otak yang tidak hanya bisa berhitung untung-rugi, tapi juga bisa melihat masa depan. Memakai logika murni tanpa empati adalah jalan tol menuju kehancuran bersama.

Lain kali kita dihadapkan pada godaan untuk mengambil sedikit lebih banyak dari hak kita, ingatlah bahwa kita semua sedang berdiri di atas satu "padang rumput" yang sama, yang bernama Bumi. Kita bisa memilih untuk menjadi sekadar manusia yang rasional secara sempit, atau kita bisa naik kelas menjadi manusia yang bijaksana secara komunal. Pilihan itu, untungnya, masih ada di tangan kita.